samedika.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang Banten, mengimbau anak-anak yang mengalami gejala campak untuk tidak berangkat ke sekolah. Langkah ini bertujuan mencegah penularan lebih luas menyusul lonjakan kasus pada awal tahun 2026. Hal tersebut menjadi peringatan kepada warga khususnya para orang tua agar waspada dengan penyakit campak yang saat ini sedang meningkat. Agar di ketahui, campak bukan sekadar ruam biasa. Ini adalah infeksi virus yang tingkat penularannya sangat tinggi, terutama pada anak-anak. Jika diabaikan, penyakit ini berisiko memicu komplikasi yang membahayakan nyawa. Itulah sebabnya, orang tua perlu jeli mengenali tanda-tandanya sejak dini serta tahu langkah apa yang harus diambil saat merawat anak di rumah. 1. Waspadai Gejala Awal: Lebih dari Sekadar Flu Menurut dr. Putri Mutiara Sari dari RS Sari Asih Cipondoh, gejala campak sering kali menyamar sebagai flu biasa di tahap awal. Namun, kombinasi gejala berikut patut diwaspadai: Demam Drastis: Suhu tubuh anak bisa melonjak tajam hingga menyentuh angka 40°C. Gejala Pernapasan & Mata: Batuk kering, hidung tersumbat (pilek), serta mata yang memerah dan berair. Bintik Koplik (Tanda Khas): Perhatikan area dalam mulut (pipi bagian dalam). Jika ada bintik putih keabu-abuan dengan dasar merah, itu adalah tanda kuat campak yang muncul 1-2 hari sebelum ruam luar terlihat. Ruam Merah yang Menyebar: Ruam biasanya muncul pertama kali di area wajah dan belakang telinga, lalu turun menyebar ke seluruh tubuh hingga kaki dalam waktu sekitar satu minggu. Catatan: Gejala ini biasanya baru muncul 7 hingga 14 hari setelah anak terpapar virus. 2. Pertolongan Pertama dan Perawatan di Rumah Jika si kecil terdiagnosis campak, fokus utama adalah menjaga kenyamanan dan mempercepat pemulihan dengan langkah-langkah berikut: Istirahat Total & Isolasi: Pastikan anak istirahat dengan cukup dan batasi kontak dengan anggota keluarga lain (terutama bayi yang belum imunisasi) untuk memutus rantai penularan. Cegah Dehidrasi: Demam tinggi dan sariawan sering membuat anak malas minum. Berikan air putih, sup hangat, atau jus buah secara rutin. Obat Penurun Panas: Gunakan parasetamol sesuai dosis anjuran dokter. Penting: Hindari penggunaan aspirin pada anak karena risiko komplikasi fatal. Jaga Kelembapan Udara: Gunakan humidifier atau pelembap udara untuk membantu meredakan batuk dan sesak di hidung. 3. Kapan Harus Segera ke Rumah Sakit? Jangan menunda untuk membawa anak ke dokter jika muncul tanda-tanda bahaya berikut: Demam tinggi yang tidak kunjung reda lebih dari 3 hari. Tanda dehidrasi (bibir sangat kering, jarang buang air kecil). Gangguan pernapasan seperti sesak napas atau nyeri dada. Anak tampak sangat lemas, tidak sadar, atau mengalami kejang. Tanpa penanganan medis yang tepat, campak dapat berkembang menjadi infeksi telinga, pneumonia (paru-paru basah), hingga ensefalitis (radang otak). Anda bisa segera melakukan konsultasi dengan spesialis di poli anak RS Sari Asih untuk diagnosis yang akurat. Pencegahan Utama Cara terbaik melindungi anak dari ancaman campak adalah melalui vaksinasi. Pastikan buah hati Anda mendapatkan imunisasi dasar lengkap, termasuk vaksin MMR, sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan oleh IDAI.
Pria Bugar di Usia 54 Tahun Kena Stroke Mendadak: Waspada Hipertensi, Si ‘Silent Killer’
Kisah seorang pria dari Sherwood, Nottingham, Inggris, menjadi pengingat keras bahwa penampilan fisik yang prima bukanlah jaminan kesehatan yang sesungguhnya. Dikenal sebagai pria yang sangat sehat dan bugar di usia 54 tahun, ia masih aktif berlari, menjalani gaya hidup tanpa risiko—tidak merokok, tidak minum alkohol, apalagi menggunakan narkoba. Namun, kondisi fisik yang tampak sempurna itu runtuh seketika. Tiba-tiba, ia merasakan kelemahan di sisi kiri tubuh, mati rasa, hingga kesulitan parah dalam menjaga keseimbangan, berjalan, menelan, dan berbicara. Keluarga segera membawanya ke klinik terdekat, dan hasilnya mengejutkan: tekanan darahnya melonjak drastis hingga 254/150 mmHg. Hipertensi: Pembunuh Senyap yang Mengintai Mengomentari kasus-kasus seperti ini, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Cipondoh dr. Kiki Maharani, Sp.PD. FINASIM, menegaskan pentingnya kewaspadaan terhadap tekanan darah tinggi. “Inilah mengapa hipertensi sering disebut ‘silent killer’. Banyak pasien merasa sehat, tidak merasakan gejala apa pun, juga tidak harus menunjukkan gejala pusing, namun di dalamnya terjadi kerusakan pembuluh darah secara perlahan,” ujar dr. Kiki. Tekanan darah yang mencapai 254/150 mmHg berada dalam kategori krisis hipertensi, yang meningkatkan risiko pecahnya pembuluh darah di otak, yang menjadi penyebab langsung serangan stroke hemoragik. Mengapa Hipertensi Disebut Silent Killer? Menurut dr. Kiki Maharani, alasan utama hipertensi sangat berbahaya adalah sifatnya yang asimtomatik (tanpa gejala) pada tahap awal dan menengah. Tidak Ada Rasa Sakit: Berbeda dengan penyakit lain, tekanan darah tinggi tidak selalu menyebabkan pusing atau sakit kepala yang signifikan, terutama pada tekanan darah yang baru meningkat. Kerusakan Diam-Diam: Tekanan tinggi yang terus-menerus merusak dinding arteri di seluruh tubuh (termasuk di jantung, ginjal, dan otak). Kerusakan ini membuat pembuluh darah menjadi kaku (aterosklerosis) dan rentan pecah atau tersumbat. Terdeteksi Saat Komplikasi: Seringkali, pasien baru terdiagnosis hipertensi ketika sudah mengalami komplikasi serius, seperti stroke (kelumpuhan mendadak), gagal jantung, atau gagal ginjal, sama seperti kasus pria bugar di Nottingham tersebut. Tindakan Pencegahan: Deteksi Dini Kunci Utama Meskipun gaya hidup sehat sangat penting, dr. Kiki Maharani menyarankan agar setiap orang—bahkan yang merasa bugar dan aktif—melakukan langkah-langkah pencegahan utama: Pemeriksaan Rutin (Medical Check-up): Jangan menunggu gejala muncul. Lakukan pengukuran tekanan darah secara teratur minimal setahun sekali. Jika ada riwayat keluarga, pemeriksaan harus lebih sering. Kenali Angka Anda: Tekanan darah normal adalah di bawah 120/80 mmHg. Angka di atas 140/90 sudah dikategorikan hipertensi. Gaya Hidup: Pertahankan pola makan rendah garam, batasi kafein, rutin berolahraga (seperti yang dilakukan pria Inggris tersebut), dan kelola stres dengan baik. Namun, ingat, gaya hidup sehat saja tidak selalu menjamin tekanan darah tetap normal jika ada faktor genetik yang kuat. Kisah pria bugar di usia 54 tahun adalah alarm bagi kita semua. Kesehatan sejati ada di dalam, bukan hanya terlihat dari luar. Pemeriksaan tekanan darah rutin adalah investasi terkecil dengan dampak terbesar untuk mencegah bencana stroke atau serangan jantung mendadak.
Sering Lelah dan Sulit Fokus? Waspada, Bisa Jadi Gejala Anemia yang Sering Terabaikan
Rasa lelah setelah beraktivitas seharian merupakan hal yang umum. Namun, apabila keluhan tersebut terasa sangat berat, disertai pusing saat berdiri, wajah pucat, atau sulit berkonsentrasi, kondisi ini sebaiknya tidak diabaikan. Gejala tersebut dapat menjadi tanda awal anemia, salah satu masalah kesehatan yang paling banyak dialami masyarakat Indonesia. Data World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa anemia memengaruhi sekitar 30% populasi dunia, terutama wanita usia produktif. Tingginya angka ini disebabkan gejalanya sering dianggap sebagai keluhan ringan sehari-hari. Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Sari Asih Sangiang, dr. Ahmad Mekkah, Sp.PD, M.Sc, M.Kes, menjelaskan bahwa banyak pasien datang terlambat ke fasilitas kesehatan karena mengira anemia hanyalah “kurang darah” atau “hipotensi”. Padahal keduanya adalah kondisi berbeda. Apa Itu Anemia? “Anemia adalah kondisi ketika tubuh kekurangan sel darah merah atau hemoglobin, sehingga kemampuan darah membawa oksigen menjadi menurun,” ujar dr. Ahmad Mekkah. Hemoglobin merupakan protein kaya zat besi yang berfungsi membawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Ketika kadarnya rendah, suplai oksigen menurun dan berbagai gejala mulai muncul. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), anemia dapat disebabkan oleh kurangnya asupan nutrisi (seperti zat besi, vitamin B12, atau folat), perdarahan, kehamilan, atau penyakit kronis tertentu. Gejala Anemia yang Sering Dianggap Sepele Dr. Ahmad Mekkah menjelaskan bahwa gejala anemia sering menyerupai keluhan umum, sehingga banyak orang tidak menyadarinya. Adapun tanda-tanda yang patut diwaspadai antara lain: Kelelahan Ekstrem Kelelahan akibat anemia biasanya bersifat menetap, terjadi hampir setiap hari, dan tidak membaik meskipun sudah cukup istirahat. Menurut Mayo Clinic, ini merupakan gejala anemia yang paling sering ditemukan. Pusing atau “Kliyengan” Kekurangan oksigen ke otak dapat menyebabkan sensasi melayang, berkunang-kunang, atau hampir pingsan, terutama saat berdiri tiba-tiba. Pucat pada Wajah dan Kelopak Mata Periksa bagian dalam kelopak mata bawah. Jika warnanya sangat pucat, ini bisa menjadi tanda rendahnya kadar hemoglobin. Jantung Berdebar dan Sesak Napas Ketika tubuh membutuhkan lebih banyak oksigen, jantung akan bekerja lebih cepat. Kondisi ini menyebabkan jantung berdebar, napas pendek, bahkan mudah lelah saat naik tangga. Sulit Konsentrasi atau “Brain Fog” Suplei oksigen yang menurun dapat mengganggu fungsi kognitif, sehingga penderitanya mudah lupa dan kesulitan fokus. Tangan dan Kaki Dingin Aliran darah yang tidak optimal membuat ekstremitas terasa dingin, walaupun suhu sekitar tidak terlalu rendah. Nutrisi Penting untuk Mencegah Anemia Menurut WHO, sebagian besar kasus anemia dapat dicegah melalui pola makan yang tepat, terutama anemia defisiensi besi. Dr. Ahmad Mekkah memberikan beberapa rekomendasi berikut: Konsumsi Sumber Zat Besi Heme Iron (lebih mudah diserap): daging merah, hati, unggas, ikan, telur. Non-Heme Iron: sayuran hijau, kacang-kacangan, tahu, tempe, lentil. Penuhi Vitamin B12 dan Folat Nutrisi ini berperan penting dalam pembentukan sel darah merah. Dapat ditemukan pada telur, susu, daging, dan sayuran hijau. Vitamin C untuk Meningkatkan Penyerapan Harvard School of Public Health menyebutkan bahwa Vitamin C dapat meningkatkan penyerapan zat besi hingga tiga kali lipat. Konsumsilah buah jeruk, jambu biji, stroberi, paprika, atau tomat bersamaan dengan makanan berzat besi. Kapan Harus ke Dokter? Apabila gejala anemia terjadi berulang dan mengganggu aktivitas, masyarakat disarankan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. “Diagnosis anemia hanya dapat dipastikan melalui pemeriksaan darah lengkap (CBC),” tegas dr. Ahmad Mekkah. Pemeriksaan tersebut akan menunjukkan kadar hemoglobin, hematokrit, serta jumlah sel darah merah. Penanganan selanjutnya akan disesuaikan dengan penyebabnya, mulai dari perubahan pola makan, suplementasi zat besi, hingga pengobatan penyakit yang mendasarinya. Anemia Bukan Penyakit Sepele Bila tidak ditangani, anemia dapat mengganggu produktivitas, konsentrasi, bahkan meningkatkan risiko komplikasi pada ibu hamil, anak, dan penderita penyakit kronis. Karena itu, mengenali gejalanya sejak dini dan melakukan pemeriksaan rutin menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan tubuh. Untuk pemeriksaan anemia atau konsultasi lebih lanjut, masyarakat dapat mengunjungi RS Sari Asih Sangiang, yang menyediakan layanan laboratorium lengkap dan dokter spesialis penyakit dalam setiap hari.
Waspada Musim Batuk Pilek! Kenali Gejala Pusing, Demam, dan Sakit Tenggorokan Hingga ke Telinga
Musim pancaroba atau peralihan cuaca sering kali membawa peningkatan kasus penyakit pernapasan, terutama batuk dan pilek. Perubahan suhu yang ekstrem dan tingkat kelembapan yang tidak menentu menciptakan lingkungan ideal bagi virus dan bakteri untuk berkembang biak. Saat ini, banyak masyarakat mengeluhkan gejala yang tidak hanya sekadar pilek biasa, tetapi juga disertai demam tinggi, pusing, sakit tenggorokan yang hebat, bahkan ada kasus seperti yang dialami Bapak Rama, di mana sakit tenggorokan menjalar hingga ke telinga. “Kunci utama saat musim pancaroba adalah menjaga daya tahan tubuh, karena perubahan cuaca yang ekstrem membuat tubuh lebih rentan. Virus dan bakteri penyebab ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) menjadi lebih mudah menyerang,” ujar dr. Ubaidillah dari RS Sari Asih Ciledug. Jangan sepelekan keluhan ini. Memahami gejala, langkah pencegahan, serta penanganan yang tepat adalah kunci untuk menjaga kesehatan Anda dan keluarga. Memahami Gejala Batuk Pilek Musiman yang Perlu Diwaspadai Batuk pilek musiman umumnya disebabkan oleh infeksi virus, seperti Rhinovirus atau Influenza. Berikut adalah gejala umum yang banyak dialami, serta penjelasan mengapa sakit tenggorokan bisa terasa hingga ke telinga: Gejala Umum: Demam (suhu tubuh meningkat) Pusing atau sakit kepala Batuk (bisa kering atau berdahak) Pilek (hidung tersumbat atau berair) Tenggorokan Sakit (nyeri saat menelan atau gatal) Badan pegal-pegal dan lemas Gejala Khusus: Sakit Tenggorokan Menjalar ke Telinga Keluhan sakit tenggorokan yang terasa hingga ke telinga (seperti yang dialami Bapak Rama) sangat umum terjadi saat sedang batuk, pilek, atau radang tenggorokan. Ini bukan berarti telinga Anda ikut terinfeksi, melainkan karena adanya koneksi anatomi: Saluran Eustachius yang menghubungkan hidung dan tenggorokan dengan telinga tengah dapat tersumbat atau meradang akibat pembengkakan dan produksi lendir yang berlebih. Saraf-saraf di area tenggorokan, seperti saraf glossopharyngeal, juga dapat mengirimkan sinyal nyeri ke bagian telinga, menciptakan sensasi nyeri yang menjalar. Ubaidillah menjelaskan, “Rasa nyeri yang menjalar dari tenggorokan ke telinga ini dalam istilah medis disebut sebagai referred pain atau nyeri kiriman. Hal ini terjadi karena jalur saraf di kedua area tersebut saling berdekatan. Jika peradangan di tenggorokan sudah sangat hebat, biasanya diikuti dengan pembengkakan dan penumpukan cairan yang menekan saluran Eustachius, yang kemudian bisa menyebabkan gejala tambahan seperti telinga berdengung atau rasa penuh di telinga.” Kondisi ini sering menjadi tanda adanya infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) atau radang amandel. Langkah Pencegahan Efektif di Musim Sakit Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Fokus utama adalah memperkuat sistem kekebalan tubuh dan memutus rantai penularan virus. Perkuat Imunitas Tubuh Tidur Cukup: Pastikan Anda mendapatkan istirahat 7-8 jam per hari. Tidur adalah waktu terbaik bagi tubuh untuk memperbaiki diri dan memproduksi sel imun. Nutrisi Seimbang: Konsumsi makanan bergizi tinggi, terutama yang kaya protein dan nutrisi mikro seperti vitamin C, D, dan Zinc (bida didapat pada buah-buahan & sayuran hijau). Jaga Hidrasi: Minum air putih minimal 8 gelas per hari. Cairan yang cukup membantu mengencerkan dahak dan menjaga tenggorokan tetap lembap. Terapkan Kebersihan Diri Rajin Cuci Tangan: Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir minimal 20 detik, terutama setelah beraktivitas di luar, sebelum makan, dan setelah batuk/bersin. Gunakan Masker: Kenakan masker saat berada di tempat umum atau keramaian, terutama jika Anda sedang sakit atau berinteraksi dengan orang sakit. Terapkan Etika Batuk: Tutup mulut dan hidung dengan tisu atau siku bagian dalam saat batuk atau bersin, lalu segera buang tisu dan cuci tangan. Pengobatan Batuk Pilek di Rumah Sebagian besar kasus batuk pilek dan flu disebabkan oleh virus dan akan sembuh dengan sendirinya dalam waktu 7 hingga 10 hari melalui perawatan di rumah. “Perawatan mandiri di rumah sangat penting untuk meredakan gejala dan mempercepat pemulihan. Fokuskan pada istirahat total dan asupan cairan yang cukup. Perlu diingat, obat antibiotik tidak diperlukan kecuali jika ada indikasi infeksi bakteri dari hasil pemeriksaan dokter,” tegas dr. Ubaidillah. Meredakan Gejala Demam dan Nyeri Obat Bebas: Minum obat pereda demam dan nyeri seperti Paracetamol atau Ibuprofen sesuai dosis untuk mengurangi demam, sakit kepala, dan nyeri otot. Obat Batuk Pilek: Gunakan obat batuk atau dekongestan yang dijual bebas untuk meredakan hidung tersumbat. Perawatan Lokal (Tenggorokan dan Hidung) Berkumur Air Garam Hangat: Larutkan 1/2 sendok teh garam ke dalam satu gelas air hangat, lalu gunakan untuk berkumur 2-3 kali sehari. Ini membantu mengurangi radang tenggorokan. Minuman Hangat: Minum teh hangat yang dicampur madu dan lemon atau air jahe. Kehangatan membantu melegakan tenggorokan dan meredakan batuk. Pembersihan Hidung (Nasal Rinse): Jika hidung sangat tersumbat, Anda bisa menggunakan alat semprot hidung yang mengandung larutan garam steril (saline) untuk membersihkan rongga hidung. Kapan Harus Segera ke Dokter? Meskipun sebagian besar batuk pilek akan sembuh sendiri, ada beberapa tanda bahaya yang mengindikasikan bahwa Anda memerlukan pemeriksaan medis lebih lanjut. “Masyarakat harus waspada jika demam tinggi sudah melewati 3 hari atau jika nyeri tenggorokan dan batuknya terasa sangat hebat dan mengganggu aktivitas. Itu bisa menjadi tanda adanya komplikasi atau infeksi sekunder yang memerlukan penanganan lebih lanjut,” kata dr. Ubaidillah dari RS Sari Asih Ciledug. Segera periksakan diri ke dokter jika Anda atau orang terdekat mengalami gejala berikut: Demam Tinggi (di atas 38.5∘C) yang tidak turun setelah minum obat demam, atau demam yang berlangsung lebih dari 3 hari. Sesak Napas atau nyeri dada. Batuk Berdarah atau batuk terus-menerus yang sangat mengganggu. Nyeri Tenggorokan Hebat atau sulit menelan yang membuat Anda sulit makan atau minum. Gejala Tidak Membaik atau malah memburuk setelah 7-10 hari. Sakit Kepala Hebat disertai kaku leher. Sakit Telinga yang tidak tertahankan. Dengan kewaspadaan dan penanganan yang tepat, Anda dapat melewati musim batuk pilek ini dengan lebih sehat. Jaga diri Anda, jaga kebersihan, dan jangan ragu mencari bantuan profesional jika diperlukan.
Hati-hati! Kesehatan Gigi Anda Pengaruhi Risiko Stroke
samedika.com – Banyak dari kita menganggap kesehatan gigi hanya sebatas senyum yang indah dan napas yang segar. Padahal, ada hubungan yang jarang disadari antara kesehatan gigi dan salah satu penyakit paling mematikan di dunia: stroke. Penelitian ilmiah terkini menunjukkan bahwa infeksi gusi kronis (periodontitis) dapat secara signifikan meningkatkan risiko stroke. Bagaimana Infeksi Gusi Memengaruhi Otak? Stroke terjadi saat aliran darah ke otak terhenti atau pembuluh darah di otak pecah. Berbagai studi, termasuk yang diterbitkan dalam jurnal Stroke by American Heart Association, telah menemukan korelasi kuat antara penyakit gusi dan stroke iskemik (penyumbatan). Ini terjadi karena bakteri dari infeksi gusi dapat dengan mudah masuk ke dalam aliran darah. Ketika sudah berada di dalam darah, bakteri ini memicu peradangan sistemik di seluruh tubuh, termasuk pada pembuluh darah di otak. Peradangan ini lama-kelamaan dapat menyebabkan penumpukan plak, yang akhirnya menyumbat aliran darah dan memicu stroke. Selain itu, studi dari Harvard T.H. Chan School of Public Health (2018) menegaskan bahwa kehilangan gigi akibat penyakit gusi berhubungan erat dengan peningkatan risiko gangguan kardiovaskular. Seseorang dengan jumlah gigi yang hilang signifikan lebih rentan terhadap masalah ini. 3 Mekanisme Utama Penyakit Gusi Memicu Stroke Infeksi pada gusi bisa memengaruhi kesehatan otak melalui beberapa cara: Peradangan Sistemik: Bakteri dari gusi memicu tubuh memproduksi zat-zat inflamasi seperti C-reactive protein (CRP), yang bisa merusak pembuluh darah dan meningkatkan risiko stroke. Aterosklerosis (Penyumbatan Arteri): Bakteri yang masuk ke aliran darah memicu pembentukan plak lemak di dinding arteri. Plak ini bisa menyempitkan atau menyumbat pembuluh darah ke otak. Gangguan Pembekuan Darah: Infeksi gusi dapat memengaruhi sistem pembekuan darah, meningkatkan risiko terbentuknya gumpalan darah yang bisa memicu serangan stroke. Jaga Gigi Sehat, Cegah Stroke Melihat kaitan yang erat ini, menjaga kesehatan gigi adalah investasi jangka panjang untuk kesehatan seluruh tubuh. Berikut adalah langkah-langkah sederhana namun sangat penting: Sikat Gigi Teratur: Sikat gigi dua kali sehari dengan pasta gigi berfluoride. Gunakan Benang Gigi: Bersihkan sisa makanan yang tersembunyi di sela-sela gigi dengan benang gigi setiap hari. Kunjungi Dokter Gigi: Lakukan pemeriksaan gigi secara rutin setiap enam bulan sekali. Hindari Kebiasaan Buruk: Berhenti merokok dan batasi konsumsi gula berlebihan. Dengan perawatan gigi yang baik, Anda tidak hanya mencegah gigi berlubang atau bau mulut, tetapi juga membantu melindungi kesehatan jantung dan otak Anda dari risiko stroke. Jadi, mulai sekarang, jadikan kesehatan gigi sebagai bagian dari prioritas hidup sehat Anda.
Pentingnya Imunisasi Lengkap untuk Anak: Cegah Penyakit Berbahaya
Menjaga tumbuh kembang Si Kecil agar selalu optimal adalah prioritas setiap orang tua. Salah satu upaya paling penting dan wajib dilakukan untuk mencapai tujuan ini adalah dengan memberikan imunisasi lengkap pada anak. Imunisasi berperan memberikan kekebalan tubuh buatan, sehingga anak terlindungi dari berbagai penyakit berbahaya di masa depan. Menurut Dokter Spesialis Anak RS Sari Asih Ciledug, dr. Arifin Kurniawan K, Sp.A., M.Kes., CHt., seperti di kutip dari laman sariasih.id imunisasi adalah cara efektif untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap penyakit spesifik. “Imunisasi mencoba memberikan dua kemungkinan. Pertama, anak tidak bisa terpapar penyakit. Kedua, jika pun terpapar, penyakit yang diderita hanya ringan,” jelas dr. Arifin. Penting untuk dipahami bahwa meskipun tidak memberikan kekebalan total, imunisasi sangat efektif dalam mengurangi risiko anak sakit dan meminimalisir tingkat keparahan penyakit jika ia terpapar. Mengejar Jadwal Imunisasi yang Terlewat Bagi orang tua yang mungkin lupa atau terlambat memberikan imunisasi pada bayi mereka, dr. Arifin menjelaskan bahwa jadwal imunisasi masih bisa dikejar. Batas usia untuk melengkapi imunisasi dasar adalah hingga usia 18 tahun. Namun, ada satu pengecualian penting yang harus diperhatikan: vaksin rotavirus untuk mencegah muntaber. Vaksin ini tidak bisa diberikan jika anak sudah melewati usia enam bulan. Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi Dengan imunisasi, anak dapat terlindungi dari banyak penyakit berbahaya. Beberapa di antaranya dapat dicegah atau diminimalisir dampaknya melalui imunisasi wajib, yaitu: Hepatitis B TBC (Tuberkulosis) Polio Difteri, Tetanus, dan Batuk Rejan Campak dan Rubella Selain itu, ada juga imunisasi lanjutan atau tambahan yang dapat mencegah penyakit-penyakit berbahaya lain, seperti: Pneumonia dan Meningitis Diare akibat rotavirus Influenza Gondongan (Mumps) Hepatitis A Kanker serviks Cacar air Ensefalitis Demam berdarah Jika Anda ingin memastikan jadwal imunisasi anak Anda lengkap atau memerlukan konsultasi lebih lanjut, jangan ragu untuk mengunjungi fasilitas kesehatan di SAMedika Karawaci dan SAMedika Ciledug
Poli Bidan Klinik SA Medika: Layanan Terpadu untuk Kesehatan Ibu dan Anak
Poli Bidan di Klinik SA Medika yang berlokasi di Jln. Imam Bonjol No. 11B, Karawaci, dan Jln. HOS Cokroaminoto No. 38, Ciledug, hadir sebagai sahabat terpercaya bagi para ibu. Kami berkomitmen untuk mendampingi setiap perjalanan kesehatan ibu dan anak, mulai dari masa kehamilan hingga masa tumbuh kembang. Kami menyediakan layanan lengkap dengan pendekatan yang ramah dan edukatif. Layanan Poli Bidan di Klinik SA Medika Kami menawarkan berbagai layanan komprehensif yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan Anda. Berikut adalah detail layanan yang tersedia: Pelayanan Kontrasepsi (KB) Kami menyediakan berbagai metode kontrasepsi yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan Anda, di antaranya: Pil KB KB Suntik (1 Bulan dan 3 Bulan) Implan IUD Pelayanan Antenatal Care (ANC) Layanan ini fokus pada pemantauan kesehatan ibu hamil, yang meliputi: Konsultasi Ibu Hamil Pemeriksaan Fisik Kehamilan Pemeriksaan Doppler Pelayanan Postnatal Care (PNC) Setelah melahirkan, kami tetap mendampingi Anda melalui: Perawatan Pasca Persalinan untuk Ibu dan Bayi Layanan Kesehatan Lainnya Selain layanan di atas, kami juga menyediakan: Konsultasi Bidan Imunisasi dasar dan tambahan Pemantauan tumbuh kembang bayi dan balita Komitmen Kami Dengan tim bidan profesional, Poli Bidan Klinik SA Medika berupaya mendukung kesehatan ibu dan anak secara berkelanjutan. Kami percaya bahwa setiap ibu dan anak berhak mendapatkan perawatan terbaik. Kunjungi Poli Bidan Klinik SA Medika Karawaci & Ciledug dan dapatkan layanan kesehatan yang komprehensif, nyaman, serta edukatif.
Menjaga Kesehatan, Investasi Seumur Hidup
Bersama SA Medika, Sehat Itu Lebih Mudah Kesehatan bukan sekadar tidak sakit. Ia adalah modal utama untuk menjalani kehidupan yang produktif, bahagia, dan bermakna. Namun di tengah kesibukan dan gaya hidup modern, banyak orang sering kali mengabaikan kondisi tubuh hingga penyakit datang tanpa disadari. Mengapa Perlu Periksa Kesehatan Rutin? Pemeriksaan kesehatan berkala atau medical check up sangat penting untuk: Mendeteksi penyakit sejak dini, sebelum gejala muncul Menghindari komplikasi serius dari penyakit yang tidak terpantau Menyesuaikan gaya hidup dan pola makan berdasarkan kondisi tubuh Memberikan ketenangan karena tubuh terpantau dengan baik Di SA Medika, kami menyediakan layanan Medical Check Up, Homecare, hingga Laboratorium Jejaring dengan standar pelayanan profesional, islami, dan penuh kasih sayang. Cegah Lebih Baik Daripada Mengobati Beberapa langkah sederhana untuk menjaga kesehatan:✔ Konsumsi makanan bergizi dan seimbang✔ Rutin berolahraga minimal 30 menit per hari✔ Cukup tidur 6–8 jam setiap malam✔ Hindari stres berlebihan✔ Lakukan imunisasi dan skrining kesehatan sesuai anjuran✔ Jangan tunda periksa jika muncul keluhan ringan SA Medika Hadir untuk Anda Kami memahami bahwa setiap pasien adalah amanah. Dengan tim dokter, perawat, dan tenaga medis berpengalaman, SA Medika siap melayani dengan sepenuh hati, baik di klinik maupun langsung ke rumah Anda melalui layanan Homecare. 💬 Ingin berkonsultasi? Butuh perawatan di rumah? Atau medical check up lengkap?Jangan ragu, hubungi kami sekarang.
Mengatasi Bau Mulut Ala Dokter Gigi
Bau mulut atau dalam bahasa medisnya Halitos merupakan munculnya aroma tidak sedap yang keluar dari rongga mulut. Kondisi ini terjadi akibat beberapa sebab, bisa karena gigi berlubang, gangguan pencernaan organ atau karena mengkonsumsi makanan beraroma tajam. Halitosis atau bau mulut merupakan kondisi dari munculnya aroma tidak sedap dari dalam rongga mulut. Baik karena mengkonsumsi makanan dengan aroma yang tajam, adanya gigi berlubang, maupun kondisi gangguan pencernaan organ. Bau mulut selain mengurangi rasa percaya diri, juga dapat mengganggu kenyamanan lawan bicara. Bagaimana menjaga kebersihan rongga mulut agar tidak berbau? Apa saja yang dapat memperparah timbulnya bau mulut? Bagaimana cara kita menyampaikan mengenai bau mulut orang lain beserta solusinya? Dokter Gigi Rumah Sakit Sari Asih Ciputat , Tangerang, , hal lain yang menyebabkan bau mulut karena sering mengonsumsi obat-obatan untuk penyakit yang sistemik seperti diabetes, hipertensi, atau penyakit jantung dan gerd dan juga masalah gigi berlubang, gigi bengkak. “Nah penyebabnya bisa bermacam-macam, dan kondisi ini biasanya tidak disadari oleh dirinya sendiri, sampai orang-orang terdekatnya baru komplain,” ujar drg. Indah Putri. Diet yang berlebihan menurut drg. Indah Putri juga berpotensi menimbulkan bau mulut, dikarenakan diet yang berlebihan membuat seseorang kehilangan banyak karbohidrat. Dan karbohidrat yang tidak tergantikan tersebut membuat lemak terbakar untuk membangkitkan energi. “Lemak yang terbakar tersebut menyebabkan gas asam dari lambung dan membuat mulut mengeluarkan bau asam,” tambah drg. Indah Putri. Untuk menghindari bau mulut sebaiknya rutin memeriksakan diri ke ahli gigi. Karena banyak hal yang menyebabkan aroma tak sedap yang perlu diketahui asal penyebabnya. Dengan rutin mengontrol gigi dan mulut diketahui penyebab pastinya sehingga bau yang keluar dari mulut dan kerongkongan bisa diatasi. “Karena kurang mengonsumsi air mineral juga bisa menyebabkan bau tidak sedap. Karena mulut menjadi kering, dan kehilangan air liur. Air liur berfungsi untuk pembersihan otomatis dari bakteri yang ada di mulut,” sebut , drg. Indah Putri. Cara Mengatasi Bau Mulut Untuk mengatasi bau mulut , drg. Indah Putri, memberikan beberapa tips di antaranya dengan oral higine dengan rajin membersihkan gigi, rajin menyikat lidah, rutin kontrol ke dokter gigi minimal enam bulan sekali, mengurangi minuman dan makanan berbau tajam atau penyebab gigi berlubang, serta tidak merokok. “Jika penyebabnya akibat obat-obatan untuk penyakit sistemik perlu dikonsultasikan dengan dokter penyakit dalam untuk mengganti obatnya, kerena tidak cocok dan menyebabkan bau mulut,” tegas drg. Indah Putri. Kunjungi Rumah Sakit Sari Asih terdekat jika terjadi keluhan pada gigi agar mendapat penanganan yang optimal. Sumber: sariasih.id
Tips Mengatasi Batuk Pilek Anak Di Musim Hujan
Berdasarkan laman Badan Meterorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), periode musim hujan 2022/2023 di sebagian besar daerah Indonesia diperkirakan maju, atau lebih awal dibandingkan periode normal, yaitu di kisaran bulan September hingga November. Puncak hujan pun disebagian besar wilayah diperkirakan terjadi pada bulan Desember 2022 hingga Januari 2023 dengan intensitas normal hingga di atas normal. Intensitas hujan perlu diantisipasi dengan baik agar tubuh dapat tetap terjaga kesehatannya. Bagi orang dewasa, perubahan cuaca bagi tubuh bisa cepat beradaptasi karena imunitas tubuh yang sudah terbentuk dengan baik. Sementara bagi Ayah Bunda merasa khawatir dengan si kecil. Hal demikian terjadi karena cuaca yang dingin dan lembab memicu kuman menjadi lebih berkembang sehingga mudah menyerang tubuh anak. Jika tidak bersiap, bisa saja kuman dan virus yang berkembang menyerang kekebalan tubuh anak-anak Ayah Bunda. Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Sari Asih Karawaci , Kota Tangerang dr. Iqbal Zein Assyidiqie, SpA , menyebutkan imunitas tubuh anak menjadi lebih rentan di saat musim penghujan. Anak akan mudah mengalami infeksi. Gejala yang lebih sering adalah batuk dan pilek. Dan ia pun memberikan beberapa tips agar si kecil tetap bisa ceria dan beraktivitas seperti biasa. Ada beberapa cara untuk mengantisipasi anak agar tidak mudah terserang penyakit, berikut adalah beberapa tips nya : 1. Ajarkan anak agar selalu menjaga kebersihan tangan. Diutamakan dengan menggunakan sabun. Jika tidak ada, bisa menggunakan hand sanitizer. 2. Ayah Bunda bisa mencium etika batuk dan bersin yang baik pada anak. Ajarkan anak untuk menutup hidung dan mulut jika bersin dan batuk dengan sapu tangan, tisu atau lengan sikunya. 3. Pastikan anak-anak memakai masker terutama saat berada di keramaian. 4. Berikan nutrisi yang seimbang, cairan yang cukup dan istirahat yang cukup agar daya tahan tubuh lebih optimal untuk melawan kuman. 5. Dan terakhir, jika diperlukan, bisa diberikan suplemen vitamin. Untuk vitamin apa yang terbaik untuk diberikan, bisa konsultasikan ke dokter atau fasilitas kesehatan terdekat. Sumber: sariasih.com